Jingga
Jingga
aku hanya tetesan air… itu pikirmu..
tetesan air saat kau basuh tubuhmu dengan busa-busa sabun
tetes… hanya tetesan…
aku tak pantas untuk terlalu sombong saat aku melewati ujung-ujung kepalamu.. itu katamu…
tetesan air saat kau basuh tubuhmu dengan busa-busa sabun
tetes… hanya tetesan…
aku tak pantas untuk terlalu sombong saat aku melewati ujung-ujung kepalamu.. itu katamu…
aku hanya tetesan air.. itu rasamu…
tak banyak… hanya tetesan kecil
saat kau bawa aku ke laut
ah… laut akan menelanku
tak banyak… hanya tetesan kecil
saat kau bawa aku ke laut
ah… laut akan menelanku
aku hanya tetesan air… ucapmu..
tak ada artinya saat kau haus…
mampukah ku sapu dahagamu?
aku tak layak untuk kau sebut minum
tak ada artinya saat kau haus…
mampukah ku sapu dahagamu?
aku tak layak untuk kau sebut minum
tahu kah kau sayang…
saat perahu kehidupan mu berlayar dengan gagahnya
aku berada di bawah perahumu…
aku tetesan air yang mampu menjadi ombak demi lengkung senyummu
saat perahu kehidupan mu berlayar dengan gagahnya
aku berada di bawah perahumu…
aku tetesan air yang mampu menjadi ombak demi lengkung senyummu
saat hatimu seperti adenium yg kering
aku basahi setiap ujung kelopakmu meski harus dengan air mataku
aku basahi setiap ujung kelopakmu meski harus dengan air mataku
saat kau lelah dengan duniamu…
aku tetesan kecil yg merambat halus dikisi-kisi saraf lidahmu
lembut…. aku terus tarikan aliranku sampai ke jantungmu..
aku tetesan kecil yg merambat halus dikisi-kisi saraf lidahmu
lembut…. aku terus tarikan aliranku sampai ke jantungmu..
mampukah kau lihat megahnya samudra
tanpa ada tetesan air??
tanpa ada tetesan air??
aku.. kau sebut PEREMPUAN
lemah??? tapi sesungguhnya akulah napasmu….
lemah??? tapi sesungguhnya akulah napasmu….
Lala Sangkak LaRanta
wahai Perempuan…
engkau lebih dari setiap tetes keringat dengan panjang waktuku lalui hari…
engkau tetes embun dengan cahaya segala warsa…
engkau mahligai yg sanggup menafikan semua duniawi…
engkau sesak yg ingin kuberikan nafas
engkau mahligai yg sanggup menafikan semua duniawi…
engkau sesak yg ingin kuberikan nafas
hidupku hanya rindukan gemericik tawamu dalam kesementaraan ini…
diri menjulang buat apa jika tidak untuk teduh membelai bulir embun…
haruskah aku merindukan samudra sementara yg kubutuh hanya riak riak disenyummu
diri menjulang buat apa jika tidak untuk teduh membelai bulir embun…
haruskah aku merindukan samudra sementara yg kubutuh hanya riak riak disenyummu
tak perlu kau sesali dirimu sebagai lembah kehidupan…
tak perlu kau khawatir atas lemah yg melunakkan ego lelakiku…
tak perlu menyesal menjadi kecil yg sanggup menentukan aku seperti apa…
tak perlu kau khawatir atas lemah yg melunakkan ego lelakiku…
tak perlu menyesal menjadi kecil yg sanggup menentukan aku seperti apa…
begitu emansipasimu menjadi lebih dari yg kau fikir…
karena engkau lebih indah dari persamaan hak…
karena mahligai keindahan adalah hakmu…
karena itulah engkau perempuan…
ya……. karena engkau perempuanku…
karena engkau lebih indah dari persamaan hak…
karena mahligai keindahan adalah hakmu…
karena itulah engkau perempuan…
ya……. karena engkau perempuanku…
Salam Cinta : Lala & Jingga
Tidak ada komentar:
Posting Komentar